Semangat latihan memang bagus. Apalagi ketika progres mulai terasa, beban bertambah, repetisi naik, dan tubuh terasa semakin kuat. Kondisi seperti ini sering membuat kita ingin terus menaikkan intensitas dari minggu ke minggu.
- Apa Itu Deload Week?
- Kenapa Tubuh Kadang Membutuhkan Deload?
- Tanda Tubuh Mulai Membutuhkan Deload
- Beban yang Biasanya Normal Mendadak Terasa Berat
- Badan Terasa Tidak Segar
- Performa Mulai Stagnan
- Sendi Mulai Sering Terasa Tidak Nyaman
- Bagaimana Cara Melakukan Deload Week?
- Apa yang Bisa Dilakukan Selama Deload?
- Apakah Pemula Perlu Deload Week?
- Berapa Lama Deload Dilakukan?
- Apakah Deload Membuat Otot Mengecil?
- Deload Juga Bisa Membantu Mental
- Kapan Sebaiknya Kembali ke Latihan Normal?
- Deload Bukan Berarti Malas Latihan
Namun, tubuh tidak selalu bisa diajak bekerja keras tanpa jeda.
Ada saatnya latihan yang biasanya terasa nyaman justru mendadak lebih berat. Badan juga mungkin tidak benar-benar segar meski waktu tidur sudah cukup. Bahkan, keinginan untuk pergi ke gym bisa ikut menurun.
Kondisi tersebut belum tentu berarti kamu kehilangan motivasi. Bisa jadi tubuh sedang membutuhkan waktu lebih banyak untuk memulihkan diri.
Salah satu strategi yang sering digunakan dalam situasi seperti ini adalah deload week.
Apa Itu Deload Week?
Deload week adalah periode ketika volume atau intensitas latihan sengaja dikurangi untuk sementara waktu. Biasanya, fase ini berlangsung selama beberapa hari hingga sekitar satu minggu.
Meski disebut deload, bukan berarti kamu harus berhenti olahraga sepenuhnya.
Latihan masih bisa dilakukan seperti biasa. Hanya saja, beban dibuat lebih ringan, jumlah set dikurangi, atau setiap set tidak lagi dilakukan terlalu dekat dengan batas kemampuan.
Sebagai contoh, kamu biasanya melakukan squat dengan beban 80 kilogram sebanyak empat set. Saat deload, beban tersebut bisa diturunkan menjadi lebih ringan atau jumlah setnya dikurangi menjadi dua sampai tiga.
Dengan begitu, tubuh tetap mendapatkan stimulus latihan tanpa menerima tekanan sebesar minggu-minggu sebelumnya.
Tujuan utama deload bukan mengejar performa terbaik. Sebaliknya, fase ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk mengejar proses pemulihan yang mungkin tertinggal.
Kenapa Tubuh Kadang Membutuhkan Deload?
Latihan bekerja dengan memberikan stimulus kepada tubuh. Setelah menerima stimulus tersebut, otot dan sistem tubuh lainnya akan beradaptasi agar lebih siap menghadapi beban serupa pada latihan berikutnya.
Namun, adaptasi tidak hanya terjadi saat kita mengangkat barbell atau melakukan repetisi terakhir.
Justru sebagian besar proses pemulihan berlangsung setelah sesi latihan selesai.
Karena itu, progres latihan tidak hanya bergantung pada seberapa keras kamu berlatih. Waktu istirahat, kualitas tidur, pola makan, hingga kondisi tubuh sehari-hari juga ikut menentukan.
Prinsip ini juga penting dalam latihan kekuatan untuk pemula. Ada waktu untuk memberikan stimulus yang lebih besar, tetapi ada pula waktu untuk memberikan kesempatan kepada tubuh untuk pulih.
Jika latihan terus dibuat semakin berat sementara recovery tidak mencukupi, kelelahan bisa menumpuk secara perlahan.
Awalnya mungkin tidak terlalu terasa. Akan tetapi, setelah beberapa minggu, performa bisa mulai stagnan atau bahkan menurun.
Di sinilah deload bisa menjadi salah satu pilihan.
Tanda Tubuh Mulai Membutuhkan Deload
Tidak ada aturan bahwa semua orang wajib melakukan deload setiap empat atau enam minggu sekali.
Kebutuhan setiap orang berbeda.
Seseorang yang berlatih tiga kali seminggu dengan intensitas sedang tentu memiliki kebutuhan recovery yang berbeda dengan orang yang latihan berat lima atau enam kali dalam seminggu.
Karena itu, selain melihat program latihan, perhatikan juga beberapa sinyal dari tubuh.
Beban yang Biasanya Normal Mendadak Terasa Berat
Hari buruk di gym merupakan hal yang wajar.
Kurang tidur, pekerjaan yang padat, pola makan yang kurang teratur, atau stres bisa membuat performa latihan turun sementara.
Meski demikian, kondisinya perlu diperhatikan jika terjadi selama beberapa sesi berturut-turut.
Misalnya, minggu lalu kamu masih nyaman melakukan bench press pada beban tertentu. Minggu berikutnya, beban yang sama sudah terasa berat sejak set pertama.
Kalau hanya terjadi sekali, belum tentu ada masalah.
Namun, jika performa terus menurun dan tubuh terasa lebih lelah dari biasanya, recovery mungkin mulai tertinggal.
Badan Terasa Tidak Segar
Merasa lelah setelah latihan tentu normal.
Masalahnya mulai berbeda ketika rasa lelah terus terbawa hingga ke aktivitas sehari-hari.
Bangun tidur terasa berat, tubuh seperti tidak segar, dan keinginan untuk berlatih ikut menurun. Padahal, sebelumnya rutinitas latihan terasa menyenangkan.
Dalam situasi seperti ini, menambah kopi sebelum workout belum tentu menjadi jawaban.
Sebaliknya, tubuh mungkin membutuhkan tekanan latihan yang sedikit lebih rendah untuk beberapa hari.
Performa Mulai Stagnan
Progres latihan memang tidak selalu berjalan lurus.
Kadang beban bisa bertambah dengan cepat. Namun, pada periode lain, angka di barbell mungkin tidak bergerak sama sekali.
Stagnasi seperti itu sebenarnya masih normal.
Akan tetapi, jika performa yang mandek disertai kelelahan berkepanjangan, kualitas tidur menurun, atau latihan terus terasa semakin berat, ada baiknya mulai memperhatikan recovery.
Memaksakan progressive overload ketika tubuh belum pulih belum tentu membuat progres lebih cepat.
Bahkan, kualitas sesi latihan berikutnya bisa ikut menurun.
Sendi Mulai Sering Terasa Tidak Nyaman
Pegal setelah latihan berbeda dengan rasa tidak nyaman pada sendi.
Misalnya, bahu mulai terasa kurang nyaman saat pressing, siku terasa rewel ketika menarik beban, atau lutut mulai memberikan sinyal setelah beberapa minggu latihan berat.
Keluhan ringan seperti ini sebaiknya tidak langsung diabaikan.
Deload memang bukan pengobatan untuk cedera. Meski begitu, mengurangi tekanan latihan dapat memberi tubuh waktu tambahan untuk pulih.
Jika muncul rasa sakit yang tajam, terus menetap, atau semakin parah, sebaiknya jangan hanya mengandalkan deload. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan yang kompeten akan lebih tepat.
Bagaimana Cara Melakukan Deload Week?
Melakukan deload sebenarnya tidak harus rumit.
Tidak ada satu formula yang cocok untuk semua orang. Oleh sebab itu, metode deload bisa disesuaikan dengan program latihan dan kondisi tubuh masing-masing.
Beberapa cara berikut cukup mudah diterapkan.
1. Kurangi Beban
Cara paling sederhana adalah memakai beban yang lebih ringan dari biasanya.
Sebagai contoh, kalau biasanya kamu menggunakan beban yang cukup menantang, selama deload pilih berat yang terasa jauh lebih nyaman.
Tidak perlu mengejar personal record.
Selain itu, repetisi juga tidak perlu dipaksakan sampai benar-benar berat.
Karena bebannya lebih ringan, kesempatan ini bisa digunakan untuk memperhatikan teknik gerakan dengan lebih baik.
2. Kurangi Jumlah Set
Pilihan lainnya adalah mengurangi volume latihan.
Kalau biasanya satu gerakan dilakukan sebanyak empat set, saat deload kamu bisa menurunkannya menjadi dua atau tiga set.
Dengan cara tersebut, beban mungkin tidak berubah terlalu banyak. Namun, total tekanan yang diterima tubuh tetap berkurang.
Pendekatan ini cocok untuk orang yang ingin mempertahankan pola latihan tanpa menjalankan volume sebanyak minggu biasanya.
3. Jangan Latihan Sampai Failure
Beberapa orang terbiasa melakukan set hingga benar-benar tidak mampu menyelesaikan repetisi berikutnya.
Saat deload, pendekatan seperti ini tidak diperlukan.
Cobalah berhenti ketika masih merasa mampu melakukan beberapa repetisi tambahan.
Dengan kata lain, latihan seharusnya terasa lebih ringan dibandingkan minggu normal.
Mungkin sesi gym terasa sedikit kurang puas. Meski begitu, memang bukan itu tujuan deload.
Fokus utamanya adalah mengurangi fatigue sambil tetap menjaga rutinitas latihan.
Apa yang Bisa Dilakukan Selama Deload?
Deload bukan berarti kamu hanya datang ke gym, melakukan dua gerakan, lalu pulang tanpa tujuan.
Sebaliknya, minggu yang lebih ringan justru bisa dimanfaatkan untuk memperhatikan hal-hal kecil yang sering terlupakan.
Salah satunya adalah teknik.
Ketika beban tidak terlalu berat, kamu bisa kembali memperhatikan posisi kaki saat squat, kontrol gerakan saat bench press, jalur barbell, hingga cara mengatur napas.
Selain itu, tubuh yang terasa kaku juga bisa dibantu dengan latihan mobility 10 menit yang ringan.
Jalan kaki santai, stretching, atau aktivitas ringan lainnya juga tetap bisa dilakukan.
Intinya, tubuh tidak harus berhenti bergerak.
Yang dikurangi adalah tekanan dari latihan berat yang selama beberapa minggu sebelumnya terus menumpuk.
Apakah Pemula Perlu Deload Week?
Belum tentu.
Orang yang baru mulai latihan biasanya belum menghasilkan fatigue sebesar seseorang yang sudah menjalani latihan berat selama bertahun-tahun.
Selain itu, program untuk pemula umumnya memiliki volume dan intensitas yang relatif lebih rendah.
Karena itu, hari istirahat biasa sering kali sudah cukup untuk membantu recovery.
Meski demikian, bukan berarti pemula sama sekali tidak boleh melakukan deload.
Jika program latihan cukup padat dan tubuh mulai menunjukkan tanda kelelahan, mengurangi intensitas selama beberapa sesi tetap bisa dipertimbangkan.
Yang terpenting, deload tidak perlu dijadikan aturan kaku.
Lakukan ketika memang ada alasan untuk melakukannya.
Berapa Lama Deload Dilakukan?
Namanya memang deload week, tetapi durasinya tidak harus selalu tepat tujuh hari.
Sebagian orang mungkin cukup melakukan dua atau tiga sesi latihan ringan.
Sementara itu, orang lain merasa lebih nyaman menjalani satu minggu penuh sebelum kembali ke intensitas normal.
Durasi tersebut bergantung pada beberapa hal, mulai dari beratnya latihan sebelumnya, frekuensi olahraga, hingga kondisi tubuh ketika memasuki fase deload.
Karena itu, tidak perlu terlalu terpaku pada kalender.
Kalau tubuh sudah terasa lebih segar dan performa kembali membaik, kamu bisa mulai kembali ke latihan normal secara bertahap.
Apakah Deload Membuat Otot Mengecil?
Kekhawatiran ini cukup sering muncul.
Sudah berbulan-bulan berusaha membangun otot, lalu muncul rasa takut semua progres akan hilang hanya karena latihan dibuat lebih ringan selama beberapa hari.
Padahal, tubuh tidak bekerja secepat itu.
Progres yang dibangun selama berbulan-bulan tidak langsung hilang hanya karena satu minggu latihan dilakukan dengan intensitas yang lebih rendah.
Sebaliknya, periode recovery yang cukup justru dapat membuatmu kembali berlatih dengan energi yang lebih baik.
Jadi, tidak perlu merasa bersalah ketika satu minggu tidak mengangkat beban seberat biasanya.
Ada kalanya mengurangi intensitas merupakan bagian dari progres itu sendiri.
Deload Juga Bisa Membantu Mental
Latihan tidak hanya melelahkan secara fisik.
Mengejar angka terus-menerus juga bisa terasa melelahkan secara mental.
Setiap datang ke gym ingin menambah beban. Pada sesi berikutnya, target kembali dinaikkan. Lama-kelamaan, olahraga yang awalnya menyenangkan bisa terasa seperti kewajiban.
Deload memberikan sedikit ruang dari tekanan tersebut.
Selama beberapa sesi, kamu tidak perlu memikirkan personal record atau apakah beban minggu ini lebih berat dibandingkan minggu sebelumnya.
Menariknya, setelah beberapa hari berlatih lebih santai, motivasi untuk kembali ke latihan berat sering muncul dengan sendirinya.
Dengan begitu, deload bukan hanya soal memulihkan otot.
Pikiran pun mendapat kesempatan untuk beristirahat dari tuntutan performa.
Kapan Sebaiknya Kembali ke Latihan Normal?
Setelah periode deload selesai, tidak perlu langsung mencoba sesi terberat.
Kembali saja ke program seperti biasa dan lihat bagaimana respons tubuh.
Kalau badan terasa lebih segar dan beban yang sebelumnya terasa berat kembali normal, periode recovery tersebut kemungkinan memberikan manfaat.
Setelah itu, progres bisa dilanjutkan secara bertahap.
Namun, jangan mencoba “membayar” minggu deload dengan menggandakan latihan pada minggu berikutnya.
Cara seperti itu justru bisa membuat fatigue kembali menumpuk.
Lebih baik kembali ke ritme latihan secara normal dan biarkan performa berkembang dari sana.
Deload Bukan Berarti Malas Latihan
Masih ada anggapan bahwa sesi gym yang bagus harus selalu terasa berat.
Keringat sering dianggap sebagai tanda latihan berhasil. Rasa pegal juga kadang dijadikan patokan bahwa tubuh sudah bekerja maksimal. Bahkan, sebagian orang merasa setiap sesi harus berakhir dengan tambahan beban.
Padahal, progres jangka panjang tidak sesederhana itu.
Ada minggu ketika tubuh siap menerima latihan berat. Di sisi lain, ada pula periode ketika recovery perlu mendapatkan perhatian lebih banyak.
Karena itu, deload week bukan tanda kamu malas atau menyerah dari latihan.
Justru, mengurangi intensitas pada waktu yang tepat bisa menjadi bagian dari program latihan yang lebih terukur.
Kalau beberapa sesi terakhir terasa semakin berat, performa mulai turun, dan tubuh seperti tidak pernah benar-benar segar, mungkin solusinya bukan menambah latihan.
Bisa jadi tubuh hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mengejar recovery.
Setelah kondisi kembali membaik, barulah latihan dilanjutkan dengan energi yang lebih siap dan target yang lebih realistis.

