By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
Follow US
Home » Blog » Diet IF Makin Populer, Benarkah Efektif Menurunkan Berat Badan?
Berita KesehatanGaya Hidup SehatNutrisi & Diet

Diet IF Makin Populer, Benarkah Efektif Menurunkan Berat Badan?

Keyla Arjuna
Last updated: August 19, 2026 8:40 am
By
Keyla Arjuna
Share
9 Min Read
SHARE

Mengenal Intermittent Fasting dan Cara Kerjanya

fitnesid – Diet intermittent fasting (IF) atau puasa berselang kembali menarik perhatian karena banyak orang mencari cara yang lebih sederhana untuk mengatur pola makan dan berat badan. Berbeda dari diet yang fokus menghitung setiap kalori, IF lebih menekankan kapan seseorang makan dan kapan tubuh berpuasa.

Contents
  • Bagaimana Diet IF Bisa Membantu Menurunkan Berat Badan?
  • Metode IF 16:8 yang Paling Banyak Dikenal
  • IF Bukan Berarti Bebas Makan Saat Jendela Makan
  • Apakah IF Lebih Efektif daripada Diet Biasa?
  • Rasa Lapar Bisa Menjadi Tantangan
  • Siapa yang Sebaiknya Berhati-Hati dengan Diet IF?
  • Cara Menjalankan IF dengan Lebih Seimbang
  • Diet IF Bukan Solusi Instan

Pola ini membagi waktu dalam sehari atau seminggu menjadi periode makan dan periode tanpa asupan kalori. Salah satu metode yang paling populer adalah 16:8, yaitu berpuasa selama 16 jam dan menyediakan waktu makan selama 8 jam.

Popularitas tidak hanya muncul dari media sosial. Sejumlah penelitian juga terus mengamati pengaruh pembatasan waktu makan terhadap berat badan dan kesehatan metabolik. Kajian sistematis dan meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa time-restricted eating (TRE), salah satu bentuk IF, dapat membantu menurunkan berat badan dan beberapa indikator metabolik.

Namun, hasil tersebut tidak berarti IF otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua orang. Cara menjalankannya, kualitas makanan, kondisi tubuh, serta kemampuan seseorang mempertahankan pola tersebut tetap menjadi faktor penting.

Bagaimana Diet IF Bisa Membantu Menurunkan Berat Badan?

Pada dasarnya, IF dapat membantu seseorang mengurangi kesempatan untuk makan dalam sehari. Ketika seseorang memiliki jendela makan yang lebih terbatas, total asupan energi juga berpotensi turun.

Misalnya, seseorang yang biasanya makan atau ngemil dari pagi hingga malam mungkin mengubah pola tersebut menjadi waktu makan selama delapan jam. Perubahan ini dapat mengurangi frekuensi ngemil, terutama pada malam hari.

Penelitian menunjukkan bahwa time-restricted eating memang berkaitan dengan penurunan berat badan. Meta-analisis yang terbit pada 2026 dan melibatkan 41 uji acak dengan 2.287 peserta menemukan bahwa TRE secara keseluruhan memberikan perbaikan pada berat badan, indeks massa tubuh, massa lemak, lingkar pinggang, tekanan darah sistolik, glukosa puasa, insulin puasa, dan trigliserida dibandingkan pola makan biasa.

Meski begitu, manfaat tersebut bukan berarti tubuh membakar lemak secara ajaib hanya karena seseorang melewatkan sarapan atau makan lebih sedikit jam dalam sehari. Jumlah dan kualitas makanan tetap memainkan peran besar.

Metode IF 16:8 yang Paling Banyak Dikenal

Salah satu pola intermittent fasting yang paling mudah ditemukan adalah metode 16:8. Dalam pola ini, seseorang menjalani puasa selama 16 jam dan makan dalam jendela delapan jam.

Sebagai contoh, seseorang dapat memilih waktu makan dari pukul 12.00 hingga 20.00. Setelah makan malam, ia kemudian tidak mengonsumsi makanan berkalori sampai waktu makan berikutnya pada siang hari.

Namun, waktu tersebut tidak wajib diikuti semua orang. Studi terbaru justru menemukan bahwa waktu makan yang lebih awal dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan jendela makan yang terlalu larut.

Dalam meta-analisis 2026, early time-restricted eating menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan pola makan dengan waktu makan lebih malam. Pola makan lebih awal juga berkaitan dengan penurunan berat badan dan insulin puasa yang lebih besar.

Temuan ini membuat pembahasan tentang IF semakin berkembang. Para peneliti tidak hanya melihat berapa lama seseorang berpuasa, tetapi juga mempertimbangkan kapan seseorang mengonsumsi makanan.

IF Bukan Berarti Bebas Makan Saat Jendela Makan

Kesalahan yang cukup sering terjadi dalam menjalankan diet IF adalah menganggap seseorang boleh makan apa saja selama berada dalam jendela makan.

Padahal, pola makan tetap menentukan kualitas diet secara keseluruhan. Jika seseorang menghabiskan waktu makan dengan makanan tinggi gula, gorengan, makanan ultra-proses, atau minuman tinggi kalori dalam jumlah berlebihan, hasil diet bisa jauh dari harapan.

Karena itu, jendela makan sebaiknya berisi makanan yang memberikan nutrisi cukup. Protein, sayuran, buah, sumber karbohidrat berkualitas, lemak sehat, dan cairan tetap perlu mendapat perhatian.

Pola IF juga tidak harus membuat seseorang merasa kelaparan sepanjang hari. Jika jendela makan terlalu sempit sampai mengganggu aktivitas atau membuat seseorang sulit memenuhi kebutuhan nutrisi, pola tersebut mungkin tidak cocok.

Apakah IF Lebih Efektif daripada Diet Biasa?

Pertanyaan ini menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan intermittent fasting. Jawabannya tidak sesederhana “ya”.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa IF dapat membantu menurunkan berat badan. Namun, manfaatnya tidak selalu jauh lebih besar dibandingkan diet dengan pembatasan kalori biasa.

Sebuah meta-analisis pada perempuan dengan berat badan berlebih atau obesitas menemukan bahwa TRE mampu menurunkan berat badan dan insulin puasa. Namun, ketika dibandingkan langsung dengan pembatasan kalori, TRE tidak menghasilkan penurunan berat badan yang secara signifikan lebih baik.

Artinya, keberhasilan IF kemungkinan besar juga berkaitan dengan kemampuan seseorang mengurangi asupan energi dan mempertahankan pola tersebut dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, IF bukan satu-satunya jalan menuju penurunan berat badan. Diet rendah kalori dengan jadwal makan biasa juga bisa memberikan hasil jika seseorang mampu menjalankannya secara konsisten.

Rasa Lapar Bisa Menjadi Tantangan

Meskipun banyak orang merasa IF praktis, pola ini tidak selalu terasa mudah. Rasa lapar dapat muncul terutama ketika tubuh masih beradaptasi dengan perubahan jadwal makan.

Sebuah meta-analisis yang terbit pada 2025 menemukan bahwa time-restricted eating dapat meningkatkan rasa lapar dibandingkan strategi dengan asupan kalori yang sama. Penelitian tersebut menganalisis sejumlah uji acak pada orang dewasa dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

Karena itu, seseorang sebaiknya tidak memaksakan puasa terlalu lama hanya karena ingin mendapatkan hasil lebih cepat. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi, sementara kualitas tidur, aktivitas fisik, hidrasi, dan asupan nutrisi tetap harus terjaga.

Siapa yang Sebaiknya Berhati-Hati dengan Diet IF?

Intermittent fasting bukan pola makan yang cocok untuk semua orang. Johns Hopkins Medicine menyarankan beberapa kelompok untuk menghindari IF atau berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, termasuk anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun, ibu hamil atau menyusui, orang dengan diabetes tipe 1 yang menggunakan insulin, serta orang yang memiliki riwayat gangguan makan.

Orang yang mengalami sakit kepala, mual, kecemasan yang tidak biasa, atau keluhan lain setelah menjalankan IF juga sebaiknya tidak mengabaikan kondisi tersebut. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah pola tersebut aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Cara Menjalankan IF dengan Lebih Seimbang

Bagi orang dewasa yang ingin mencoba intermittent fasting, pendekatan bertahap bisa menjadi pilihan. Tidak perlu langsung memilih pola puasa yang sangat panjang.

Mulailah dengan jadwal yang realistis dan perhatikan respons tubuh. Selama jendela makan, prioritaskan makanan bernutrisi dan hindari kebiasaan “balas dendam” dengan makan dalam jumlah berlebihan.

Selain itu, jangan lupakan aktivitas fisik. Latihan kekuatan, berjalan kaki, atau olahraga lain dapat membantu menjaga kebugaran dan mendukung komposisi tubuh.

Yang tidak kalah penting, jangan menjadikan angka timbangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Perubahan lingkar pinggang, kebugaran, kualitas tidur, energi harian, serta kemampuan mempertahankan pola hidup sehat juga layak diperhatikan.

Diet IF Bukan Solusi Instan

Popularitas intermittent fasting memang memiliki dasar dari sejumlah penelitian. Bukti terbaru menunjukkan bahwa time-restricted eating dapat membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki beberapa indikator kesehatan metabolik. Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa IF tidak selalu mengungguli pembatasan kalori biasa.

Karena itu, kunci utama tetap terletak pada pola makan yang seimbang dan konsisten. IF sebaiknya dipandang sebagai salah satu metode mengatur pola makan, bukan solusi instan untuk menurunkan berat badan.

Bagi sebagian orang, membatasi waktu makan mungkin terasa praktis dan mudah dipertahankan. Bagi orang lain, jadwal makan teratur justru lebih nyaman. Pilihan terbaik adalah pola yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi, mendukung aktivitas sehari-hari, dan dapat dijalankan secara berkelanjutan.

TAGGED:diet IFdiet sehatIF 16:8intermittent fastingkesehatanmenurunkan berat badanpola makantime-restricted eating
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Kebutuhan Serat Harian untuk Orang Aktif Berolahraga

Kalau bicara soal pola makan untuk orang yang rutin olahraga, perhatian biasanya…

Deload Week: Kapan Tubuh Perlu Mengurangi Intensitas Latihan?

Semangat latihan memang bagus. Apalagi ketika progres mulai terasa, beban bertambah, repetisi…

Latihan Kekuatan untuk Pemula: Fondasi Gerakan, Progres, dan Pemulihan

Mulai dari Teknik Sebelum Mengejar Beban FitnesID membahas fitness, kesehatan, latihan, serta…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Percikan air dingin ke wajah memicu refleks alami tubuh untuk menurunkan detak jantung dan menenangkan sistem saraf.
Gaya Hidup Sehat

Percikkan Air Dingin ke Wajah Turunkan Detak Jantung

By
Zahra Dimas
omega-3 dan vitamin E
Nutrisi & Diet

Kombinasi Omega-3 dan Vitamin E: Sinergi Dahsyat untuk Otak

By
Nayla Arjuna
manfaat buka jendela setiap pagi 15 menit untuk sirkulasi udara rumah
Gaya Hidup Sehat

Ventilasi & Pencahayaan Alami untuk Produktivitas

By
Kiara Rangga
Kacang-Kacangan: Camilan Wajib Zaman Now
Nutrisi & Diet

Tidak Lagi Pinggiran! Ini Dia Rahasia Kacang-Kacangan Jadi Camilan Wajib Zaman Now

By
Nayla Arjuna
https://fitnesid.com/
Facebook Twitter Pinterest Youtube Instagram
Company
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
  • Privacy Policy
  • Contact US
More Info
  • fitnesid.com

FitnesID.com

Portal Informasi Kesehatan, Fitness, dan Gaya Hidup Sehat

Join Community

Copyright © 2026 fitnesid.com, All Rights Reserved.

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?