By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
Follow US
Home » Blog » Defisit Kalori Terlalu Besar Bisa Ganggu Respons Tulang
Nutrisi & Diet

Defisit Kalori Terlalu Besar Bisa Ganggu Respons Tulang

Keyla Arjuna
Last updated: October 12, 2026 3:37 am
By
Keyla Arjuna
Share
7 Min Read
SHARE

Fitnes ID mencatat hubungan defisit kalori dan kesehatan tulang kembali mendapat perhatian setelah penelitian terbaru menemukan pembatasan energi yang cukup besar selama lima hari dapat menekan biomarker pembentukan tulang. Efek tersebut muncul pada orang dewasa muda yang aktif dan tidak sepenuhnya hilang meskipun asupan protein tetap dipertahankan.

Contents
  • Defisit Kalori dan Kesehatan Tulang Berkaitan dengan Energi Tersedia
  • Peneliti Menggunakan Tiga Kondisi Diet
  • Biomarker Pembentukan Tulang Menurun
  • Protein Tinggi Tidak Menyelesaikan Masalah
  • Karbohidrat Tetap Punya Fungsi saat Latihan
  • Respons Inflamasi Ikut Meningkat
  • Diet Agresif Bisa Terlihat Baik di Timbangan
  • Atlet Punya Risiko Lebih Tinggi
  • Defisit Moderat Lebih Mudah Dipertahankan
  • Studi Ini Masih Memiliki Batasan
  • Jangan Menilai Diet Hanya dari Protein dan Timbangan

Temuan ini penting bagi orang yang sedang diet sambil berolahraga.

Defisit energi memang dibutuhkan untuk menurunkan berat badan.

Namun terlalu agresif dapat memberikan tekanan fisiologis yang tidak selalu terlihat dari angka timbangan.

Studi yang diterbitkan di European Journal of Applied Physiology pada 10 Oktober melibatkan 19 orang dewasa aktif dalam desain crossover terkontrol.

Defisit Kalori dan Kesehatan Tulang Berkaitan dengan Energi Tersedia

Tubuh tidak hanya membutuhkan kalori untuk bergerak.

Energi digunakan untuk hampir seluruh fungsi fisiologis.

Hormon.

Sistem imun.

Pemulihan jaringan.

Pembentukan tulang.

Semuanya membutuhkan energi.

Low energy availability terjadi ketika energi yang tersisa setelah aktivitas fisik terlalu sedikit untuk menopang fungsi tubuh secara optimal.

Kondisi ini berbeda dari sekadar makan sedikit.

Masalah muncul ketika asupan tidak seimbang dengan beban aktivitas.

Peneliti Menggunakan Tiga Kondisi Diet

Peserta menjalani tiga kondisi selama lima hari.

  1. Kondisi pertama memiliki ketersediaan energi memadai sebesar 45 kilokalori per kilogram massa bebas lemak per hari.
  2. Kondisi kedua menurunkannya menjadi 15 kilokalori.
  3. Kondisi ketiga menggunakan tingkat energi rendah yang sama, tetapi protein dipertahankan setara dengan kondisi energi cukup.

Desain ini membantu peneliti melihat apakah protein dapat mengurangi efek energi rendah.

Hasilnya cukup menarik.

Protein tidak memberikan perlindungan yang diharapkan.

Biomarker Pembentukan Tulang Menurun

Peneliti mengukur P1NP.

Marker ini digunakan untuk melihat aktivitas pembentukan tulang.

Nilainya menurun pada dua kondisi energi rendah dibandingkan kondisi energi cukup.

Penurunan biomarker tidak otomatis berarti tulang peserta langsung kehilangan massa dalam lima hari.

Peneliti sendiri menekankan batasan tersebut.

Perubahan akut tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi risiko patah tulang atau osteoporosis jangka panjang.

Namun hasil tersebut menunjukkan proses metabolisme tulang cukup sensitif terhadap kekurangan energi.

Protein Tinggi Tidak Menyelesaikan Masalah

Banyak orang yang diet fokus pada protein.

Pendekatan ini masuk akal karena protein penting untuk mempertahankan otot.

Namun studi terbaru menunjukkan kebutuhan energi total tetap penting.

Pada kondisi energi rendah dengan protein dipertahankan sekitar 1,5 gram per kilogram per hari, gangguan biomarker tulang tidak menghilang.

Bahkan beberapa perubahan terlihat lebih konsisten.

Peneliti menduga pengurangan karbohidrat yang lebih besar pada kondisi tersebut mungkin ikut berperan.

Ini belum menjadi kesimpulan final.

Namun hasilnya mengingatkan bahwa nutrisi tidak bisa dipandang hanya dari satu makronutrien.

Karbohidrat Tetap Punya Fungsi saat Latihan

Karbohidrat sering menjadi target pertama ketika seseorang ingin mengurangi kalori.

Padahal karbohidrat menyediakan bahan bakar penting untuk latihan intensitas tinggi.

Jika asupannya terlalu rendah sementara beban latihan tetap besar, tubuh menghadapi tekanan tambahan.

Performa dapat turun.

Recovery juga bisa terganggu.

Hal ini tidak berarti semua orang harus mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah tinggi.

Kebutuhannya bergantung pada aktivitas.

Namun pemotongan ekstrem tanpa mempertimbangkan latihan bukan strategi ideal.

Respons Inflamasi Ikut Meningkat

Penelitian juga menemukan beberapa sitokin inflamasi meningkat pada kondisi energi rendah.

Di antaranya IL-6, IL-8, IL-10, IL-1Ra, dan IL-1β pada titik waktu tertentu.

Respons tersebut muncul setelah protokol olahraga.

Peserta melakukan 45 menit bersepeda pada 65 persen peak power output lalu menjalani Wingate test.

Artinya, penelitian tidak hanya melihat kondisi saat istirahat.

Para peserta juga diberi beban latihan yang cukup menantang.

Diet Agresif Bisa Terlihat Baik di Timbangan

Salah satu masalah defisit besar adalah hasil awalnya sering terlihat menarik.

Berat badan bisa turun cepat.

Sebagian penurunan berasal dari cairan dan glikogen.

Namun angka yang bergerak cepat dapat mendorong seseorang mempertahankan strategi ekstrem.

Padahal tubuh mengalami adaptasi yang tidak terlihat.

Energi.

Mood.

Kualitas tidur.

Performa.

Siklus menstruasi.

Semua dapat terpengaruh pada kondisi kekurangan energi yang berkepanjangan.

Atlet Punya Risiko Lebih Tinggi

Masalah low energy availability banyak dibahas dalam olahraga.

Atlet endurance sangat rentan.

Pelari, pesepeda, dan atlet dengan volume latihan tinggi membutuhkan energi besar.

Namun risiko juga terjadi pada orang biasa.

Seseorang bisa mengikuti diet ketat sambil menambah latihan kardio.

Secara tidak sadar, energi yang tersedia menjadi terlalu rendah.

Itulah alasan kebutuhan kalori perlu dilihat bersama volume aktivitas.

Defisit Moderat Lebih Mudah Dipertahankan

Untuk sebagian besar orang yang ingin menurunkan lemak, pendekatan moderat lebih realistis.

Diet tidak perlu dibuat seagresif mungkin.

Penurunan berat badan yang lambat tetapi konsisten sering lebih mudah dipertahankan.

Protein tetap penting.

Latihan beban juga membantu menjaga massa otot.

Namun karbohidrat dan lemak tidak boleh otomatis ditekan ke tingkat sangat rendah.

Tubuh membutuhkan keseimbangan.

Studi Ini Masih Memiliki Batasan

Jumlah peserta hanya 19 orang.

Mereka juga merupakan orang dewasa muda sehat dan aktif.

Hasilnya tidak otomatis berlaku sama pada atlet elite, lansia, remaja, atau orang dengan penyakit kronis.

Durasi lima hari juga relatif pendek.

Penelitian jangka panjang masih diperlukan.

Namun desain crossover memberi keuntungan karena setiap peserta mengalami beberapa kondisi diet.

Hal ini membantu mengurangi variasi antarindividu.

Jangan Menilai Diet Hanya dari Protein dan Timbangan

Temuan penelitian memberi pesan praktis.

Protein penting.

Tetapi protein bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan tubuh.

Total energi dan distribusi nutrisi juga perlu diperhatikan.

Diet yang terlalu agresif dapat mengganggu proses tubuh bahkan sebelum perubahan tersebut terasa jelas.

Defisit kalori dan kesehatan tulang menjadi salah satu contoh.

Target berat badan tetap bisa dikejar.

Namun strategi perlu memberi tubuh cukup bahan bakar untuk berlatih, pulih, dan mempertahankan fungsi fisiologis.

TAGGED:defisit kaloridiet ekstremkesehatan tulanglow energy availabilitynutrisi atletOlahragaProtein
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Olahraga Intens Bisa Picu Respons Daur Ulang Sel yang Berbeda

Fitnes ID mencatat autophagy setelah olahraga menjadi topik menarik setelah penelitian University…

Vitamin D2 dan D3 Ternyata Tak Bekerja dengan Cara Sama

Fitnes ID - panduan nutrisi dan kebugaran perlu membedakan vitamin D2 dan…

Ice Bath dan Massage Tak Selalu Bikin Recovery Lebih Baik

Fitnes ID mencatat cara recovery otot kembali menjadi sorotan setelah ulasan terbaru…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Makan sebelum workout dengan pilihan pisang, oat, yogurt, roti, dan air untuk energi latihan
Nutrisi & Diet

Makan Sebelum Workout: Berapa Jam Sebelumnya dan Makan Apa?

By
Keyla Arjuna
Fitness & Olahraga

Athletic Pilates Jadi Tren Fitness 2026, Apa Bedanya dengan Pilates Biasa?

By
Keyla Arjuna
Antara Lega dan Cemas: Dilema Pemanis Buatan
Nutrisi & Diet

Jangan Salah Pilih! Ini Cara Bijak Menggunakan Pemanis Buatan

By
Nayla Fadli
Cara Membersihkan Usus Secara Alami
Nutrisi & Diet

Panduan : Cara Membersihkan Usus Secara Alami dengan Serat

By
Shakira Fauzan
https://fitnesid.com/
Facebook Twitter Pinterest Youtube Instagram
Company
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
  • Privacy Policy
  • Contact US
More Info
  • fitnesid.com

FitnesID.com

Portal Informasi Kesehatan, Fitness, dan Gaya Hidup Sehat

Join Community

Copyright © 2026 fitnesid.com, All Rights Reserved.

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?