Fitnes ID mencatat HIIT untuk lansia kembali mendapat perhatian setelah sebuah studi selama enam bulan menemukan latihan interval intensitas tinggi dapat membantu menurunkan lemak tubuh sambil mempertahankan jaringan tanpa lemak. Hasil ini menarik karena kehilangan massa otot menjadi salah satu masalah penting ketika usia bertambah.
- HIIT untuk Lansia Perlu Dilihat secara Tepat
- Massa Otot Semakin Penting saat Usia Bertambah
- Studi Berlangsung Enam Bulan
- Lemak Perut Juga Menjadi Perhatian
- HIIT Bukan Pengganti Latihan Beban
- Intensitas Harus Disesuaikan
- Pemeriksaan Kesehatan Bisa Dibutuhkan
- Pemanasan Menjadi Lebih Penting
- Recovery Tidak Boleh Dilupakan
- Otot Perlu Menjadi Fokus dalam Nutrisi Klinis
- Latihan Bisa Dimulai dari Versi Ringan
- Tujuan Utamanya Tetap Fungsi Tubuh
Penelitian tersebut berasal dari University of the Sunshine Coast.
Menurut ScienceDaily, kelompok yang menjalani HIIT mampu mempertahankan massa otot lebih baik dibanding kelompok latihan dengan intensitas sedang.
Namun temuan ini tidak berarti semua orang berusia lanjut harus langsung melakukan latihan sangat berat.
HIIT untuk Lansia Perlu Dilihat secara Tepat
HIIT adalah pola latihan interval.
Sesi menggabungkan periode kerja intensitas tinggi dengan waktu pemulihan.
Durasi kerja bisa singkat.
Contohnya berupa berjalan cepat, bersepeda, atau gerakan kardio lain.
Setelah itu peserta menurunkan intensitas.
Siklus tersebut kemudian diulang.
HIIT tidak selalu berarti sprint maksimal.
Intensitas harus menyesuaikan kemampuan peserta.
Massa Otot Semakin Penting saat Usia Bertambah
Tubuh cenderung kehilangan massa otot seiring bertambahnya usia.
Proses ini dapat memengaruhi kekuatan.
Aktivitas sehari-hari menjadi lebih berat.
Naik tangga.
Membawa belanjaan.
Bangun dari kursi.
Semua membutuhkan otot.
Itulah alasan program penurunan berat badan pada orang tua tidak boleh hanya mengejar angka timbangan.
Jika berat turun tetapi banyak otot hilang, hasilnya belum tentu ideal.
Studi Berlangsung Enam Bulan
Penelitian membandingkan beberapa pola latihan.
Peserta mengikuti program dalam periode cukup panjang.
Kelompok HIIT menunjukkan perubahan komposisi tubuh yang menarik.
Lemak turun.
Massa bebas lemak dapat dipertahankan lebih baik.
Sebaliknya, kelompok latihan intensitas sedang mengalami sedikit penurunan jaringan tanpa lemak.
Hasil tersebut memberi petunjuk bahwa intensitas latihan dapat memengaruhi respons tubuh.
Lemak Perut Juga Menjadi Perhatian
Lemak tubuh tidak semuanya sama.
Di sekitar perut, lemak sering mendapat perhatian karena berkaitan dengan risiko metabolik.
Perubahan lingkar pinggang menjadi salah satu indikator penting.
HIIT dapat membantu meningkatkan pengeluaran energi.
Namun mekanismenya bukan sekadar membakar kalori selama latihan.
Tubuh juga beradaptasi terhadap beban.
Kebugaran kardiorespirasi dapat meningkat.
Metabolisme energi ikut berubah.
HIIT Bukan Pengganti Latihan Beban
Meski hasil studi menarik, latihan beban tetap penting untuk kesehatan otot.
Resistance training memberi stimulus langsung kepada jaringan otot.
Otot beradaptasi ketika mendapat beban.
Karena itu, program kebugaran ideal untuk orang lebih tua biasanya tidak hanya mengandalkan kardio.
Latihan kekuatan dapat ditambahkan dua atau beberapa kali per minggu sesuai kemampuan.
Gerakannya tidak harus rumit.
Squat ke kursi.
Push-up dinding.
Row dengan resistance band.
Latihan sederhana bisa menjadi awal.
Intensitas Harus Disesuaikan
Kata “high intensity” sering membuat orang khawatir.
Namun intensitas bersifat relatif.
Kecepatan tinggi bagi satu orang mungkin hanya berjalan cepat bagi orang lain.
Skala RPE atau Rate of Perceived Exertion dapat membantu.
Peserta menilai seberapa berat latihan terasa.
Pendekatan ini lebih fleksibel dibanding mengejar kecepatan tertentu.
Detak jantung juga bisa digunakan jika kondisinya memungkinkan.
Pemeriksaan Kesehatan Bisa Dibutuhkan
Tidak semua orang cocok memulai HIIT tanpa evaluasi.
Riwayat penyakit jantung perlu diperhatikan.
Begitu pula masalah sendi.
Tekanan darah tinggi yang belum terkontrol juga membutuhkan perhatian.
Orang yang sudah lama tidak berolahraga sebaiknya memulai secara bertahap.
Dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu menentukan batas aman pada kondisi tertentu.
Pelatih juga dapat menyesuaikan gerakan.
Pemanasan Menjadi Lebih Penting
Tubuh memerlukan waktu sebelum masuk ke intensitas tinggi.
Pemanasan membantu meningkatkan suhu jaringan.
Detak jantung naik secara bertahap.
Sendi juga mulai bergerak lebih aktif.
Lima hingga 10 menit aktivitas ringan dapat digunakan sebelum interval.
Setelah latihan, pendinginan membantu tubuh kembali ke kondisi lebih tenang.
Langkah sederhana ini sering diabaikan.
Recovery Tidak Boleh Dilupakan
Latihan keras membutuhkan pemulihan.
HIIT tidak perlu dilakukan setiap hari.
Tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi.
Tidur menjadi penting.
Asupan protein juga berperan dalam mempertahankan otot.
Pada orang usia lanjut, kebutuhan protein sering menjadi perhatian karena respons sintesis protein otot dapat menurun.
Distribusi protein sepanjang hari bisa membantu.
Otot Perlu Menjadi Fokus dalam Nutrisi Klinis
Review terbaru juga mendorong agar kesehatan otot mendapat perhatian lebih besar dalam nutrisi klinis.
Otot tidak hanya berkaitan dengan penampilan.
Kondisi otot berkaitan dengan kemampuan pulih dari penyakit dan mempertahankan kemandirian saat menua.
Hal ini memperkuat pesan dari studi HIIT.
Program kesehatan sebaiknya melihat komposisi tubuh, bukan hanya berat.
Latihan Bisa Dimulai dari Versi Ringan
Pemula tidak perlu langsung melakukan sprint.
Salah satu contoh sederhana adalah sepeda statis.
Lakukan beberapa menit pemanasan.
Kemudian tingkatkan kecepatan selama 30–60 detik.
Turunkan intensitas selama satu hingga dua menit.
Ulangi beberapa kali.
Durasi dapat ditambah seiring adaptasi.
Jumlah interval juga tidak harus banyak.
Kualitas lebih penting daripada memaksakan volume.
Tujuan Utamanya Tetap Fungsi Tubuh
Studi HIIT memberikan hasil menarik.
Namun target kebugaran pada usia lanjut sebaiknya tidak hanya fokus pada lemak.
Kekuatan.
Keseimbangan.
Mobilitas.
Daya tahan.
Semua penting agar seseorang tetap mandiri.
HIIT untuk lansia bisa menjadi salah satu alat dalam program tersebut.
Namun latihan perlu disesuaikan dengan kemampuan individu.
Hasil terbaik kemungkinan datang dari kombinasi aktivitas aerobik, latihan kekuatan, nutrisi cukup, dan pemulihan yang baik.

