By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
  • Home
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
Follow US
Home » Blog » FOMO Membuatmu Sakit? JOMO adalah Obatnya
Berita Kesehatan

FOMO Membuatmu Sakit? JOMO adalah Obatnya

Alesha Rizky
Last updated: May 8, 2026 7:06 am
By
Alesha Rizky
Share
6 Min Read
Hidup Tenang dengan JOMO
Hidup Tenang dengan JOMO
SHARE

Pernahkah Anda merasa cemas karena melihat teman-teman sedang hangout tanpa Anda? Atau gelisah saat scrolling Instagram karena merasa hidup orang lain lebih seru? Jika iya, selamat datang di pusaran FOMO (Fear of Missing Out). Tapi kabar baiknya, ada konsep baru yang lebih menenangkan: JOMO (Joy of Missing Out)—kebahagiaan karena memilih melewatkan sesuatu demi kenyamanan diri sendiri. Mari belajar belajar nyaman dengan prioritas diri tanpa tekanan sosial media.

Contents
  •  Memahami FOMO – Ketika Kecemasan Sosial Menguasai Hidup Digital
  •  JOMO – Kebahagiaan dari Melewatkan Sesuatu
  •  Siapa yang Paling Membutuhkan JOMO?
  •  5 Tanda Kamu Perlu Beralih dari FOMO ke JOMO
  • Cara Praktis Mengganti FOMO dengan JOMO
  • Penutup
FOMO vs JOMO – Dua Sisi Media Sosial
FOMO vs JOMO – Dua Sisi Media Sosial

 Memahami FOMO – Ketika Kecemasan Sosial Menguasai Hidup Digital

FOMO adalah perasaan takut ketinggalan momen atau pengalaman penting yang dialami orang lain. Ini bukan sekadar perasaan biasa—ini adalah mental health digital yang serius. Menurut penelitian yang diterbitkan di Computers in Human Behavior (2021), FOMO berkorelasi langsung dengan meningkatnya tingkat kecemasan, depresi, dan gangguan tidur pada remaja dan dewasa muda.

Sebuah studi dari University of Pennsylvania menemukan bahwa peserta yang membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari mengalami penurunan signifikan dalam tingkat kesepian dan depresi dibandingkan kelompok yang menggunakan media sosial secara bebas. Fakta menarik: rata-rata orang menghabiskan 2 jam 24 menit per hari hanya untuk scrolling media sosial. Bayangkan waktu berharga itu bisa digunakan untuk mengatur waktu untuk diri sendiri yang lebih produktif.

Psikolog Amy Summerville dari Miami University menjelaskan bahwa FOMO muncul dari ketidakpuasan terhadap kebutuhan psikologis dasar, seperti rasa memiliki dan harga diri. Media sosial memperparahnya dengan menyajikan “highlight reel” kehidupan orang lain—hanya momen terbaik yang ditampilkan, sementara kegagalan dan kesedihan disembunyikan. Akibatnya, kita terus membandingkan hidup kita dengan ilusi.

 JOMO – Kebahagiaan dari Melewatkan Sesuatu

Lalu apa solusinya? JOMO (Joy of Missing Out). Ini adalah kebalikan sehat dari FOMO. JOMO mengajarkan bahwa bahagia dengan melewatkan sesuatu adalah bentuk self-care dari kecemasan sosial. JOMO bukan berarti menjadi anti-sosial atau menyendiri selamanya. Justru, JOMO adalah tentang melepaskan tekanan sosial media dan memilih dengan sadar aktivitas apa yang benar-benar penting bagi kita.

Menurut jurnal Frontiers in Psychology (2022), individu yang menerapkan pola pikir JOMO melaporkan tingkat kebahagiaan dari dalam diri yang lebih tinggi dan stres yang lebih rendah. Mereka lebih mampu berdamai dengan ketidaksempurnaan—tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua postingan perlu dilihat.

Penulis Christina Crook dalam bukunya “The Joy of Missing Out: Finding Balance in a Wired World” menyatakan bahwa JOMO bukanlah tentang melewatkan hal-hal yang menyenangkan, melainkan tentang memilih dengan sengaja apa yang layak mendapat perhatian kita. Saat kita berhasil fokus pada prioritas, kita justru menemukan kebahagiaan yang lebih dalam dan autentik.

 Siapa yang Paling Membutuhkan JOMO?

Tiga kelompok utama sangat diuntungkan dengan beralih ke JOMO:

1. Pekerja Millennial – Mereka sering mengalami produktivitas tanpa tekanan sosial. Sebuah survei oleh LinkedIn (2023) menunjukkan bahwa 67% pekerja millennial merasa cemas melihat pencapaian rekan kerja di media sosial. JOMO untuk pekerja millennial berarti berani bilang tidak pada proyek tambahan yang tidak penting.

2. Remaja – FOMO pada remaja mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Studi Common Sense Media melaporkan bahwa 43% remaja merasa tertekan untuk memposting konten yang membuat hidup mereka terlihat sempurna. Hidup minimalis digital bisa menjadi penyelamat bagi mereka.

3. Introvert – JOMO untuk introvert yang lelah dengan pameran sosial media adalah terapi. Mereka tidak perlu merasa bersalah karena lebih memilih membaca buku di rumah daripada pergi ke pesta ramai.

 5 Tanda Kamu Perlu Beralih dari FOMO ke JOMO

Berdasarkan pengamatan psikolog klinis, berikut tanda-tanda kamu mengalami FOMO dan perlu beralih ke JOMO:

  1. Cek HP tanpa tujuan tapi malah jadi cemas setelahnya

  2. Merasa rugi kalau tidak ikut acara meskipun lelah

  3. Sulit bilang tidak pada ajakan yang tidak penting

  4. Produktivitas turun karena terlalu banyak scrolling medsos

  5. Tidak pernah menikmati waktu sendiri tanpa rasa bersalah

Jika Anda menjawab “ya” untuk tiga atau lebih tanda di atas, sudah saatnya bertransformasi.

Cara Praktis Mengganti FOMO dengan JOMO

Inilah cara mengganti FOMO dengan JOMO yang langsung bisa Anda praktikkan:

1. Kurangi scrolling media sosial secara bertahap – Tetapkan batas waktu harian. Matikan notifikasi yang tidak penting.

2. Latihan mindful menggunakan gadget – Sebelum membuka HP, tanya diri sendiri: “Apakah ini penting?” Coba teknik 10 menit tanpa notifikasi setiap jam.

3. Tentukan prioritas hidup mingguan – Buat daftar 3 hal yang paling penting minggu ini. Abaikan sisanya.

4. Teknik digital detox – Luangkan satu hari dalam seminggu tanpa gadget (kecuali untuk keperluan darurat).

5. Nikmati waktu sendiri tanpa rasa bersalah – Cara menikmati akhir pekan tanpa FOMO adalah dengan merencanakan aktivitas yang benar-benar Anda sukai, bukan yang orang lain anggap keren.

6. Belajar bilang tidak pada ajakan yang tidak penting – Gunakan frasa seperti: “Terima kasih, tapi saat ini aku perlu waktu untuk diriku sendiri.”

Penutup

JOMO bukanlah tentang menghindari dunia, melainkan tentang memilih dengan bijak. Mulailah dari hal kecil: matikan notifikasi selama satu jam, lewatkan satu acara yang tidak penting, atau habiskan akhir pekan tanpa media sosial. Rasakan sendiri kebahagiaan dari melewatkan sesuatu demi prioritas diri sendiri. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak ditemukan di feed Instagram, tetapi di dalam ketenangan hati yang berani memilih. Selamat menikmati JOMO!

 Hidup Tenang dengan JOMO
Hidup Tenang dengan JOMO
TAGGED:berdamai dengan ketidaksempurnaancara mengganti FOMO dengan JOMOdigital detoxhidup minimalis digitalkebahagiaan dari dalam dirimelepaskan tekanan sosialmengatasi FOMOmengatur waktu untuk diri sendirimengurangi scrolling media sosialmindful menggunakan gadgetproduktivitas tanpa tekananself-care
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Fasilitas Kesehatan

Posyandu dan Prolanis: Manfaatkan Fasilitas Kesehatan Komunitas dari Pemerintah Manfaat artikel ini…

Teknik Lari di Turunan: Hindari Nyeri Lutut dengan 3 Prinsip Mudah

Setiap pelari pasti pernah mengalaminya: saat melewati jalur menurun, lutut terasa seperti…

Work-life balance remote working

Work-Life Balance di Era Remote: Ketika Fleksibilitas Menjebak dan Overworking Tak Disadari…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Ilustrasi Otak yang Bersinar dengan BDNF
Berita Kesehatan

Latihan Aerobik Intensitas Sedang-Tinggi

By
Keyla Arjuna
Mindful Eating: Nikmati Setiap Suapan dengan Penuh Kesadaran
Berita Kesehatan

Mindful Eating: Alternatif Diet Tanpa Menyiksa!

By
Keyla Arjuna
Jakarta Diselimuti Kabut Polusi: Langit Kelabu Ibu Kota
Berita Kesehatan

Dampak Polusi Udara Jakarta: Ancaman ISPA pada Anak dan Lansia

By
Keyla Arjuna
Keluarga menemani lansia dengan Alzheimer, harapan baru dengan terapi Kisunla 2026
Berita Kesehatan

Kisunla 2026: Akhir dari Penantian Keluarga Pasien Alzheimer?

By
Nayla Arjuna
https://fitnesid.com/
Facebook Twitter Pinterest Youtube Instagram
Company
  • Berita Kesehatan
  • Nutrisi & Diet
  • Gaya Hidup Sehat
  • Fitness & Olahraga
  • Privacy Policy
  • Contact US
More Info
  • fitnesid.com

FitnesID.com

Portal Informasi Kesehatan, Fitness, dan Gaya Hidup Sehat

Join Community

Copyright © 2026 fitnesid.com, All Rights Reserved.

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?