Fitnes ID mencatat kebiasaan sehat menghadapi stres tidak selalu memerlukan perubahan ekstrem. Penelitian terbaru dari Binghamton University menemukan bahwa rutinitas sederhana seperti sarapan teratur, olahraga, dan tidur cukup berkaitan dengan psychological flexibility yang lebih baik.
- Kebiasaan Sehat Menghadapi Stres Dimulai dari Rutinitas
- Sarapan Teratur Berkaitan dengan Fleksibilitas Lebih Baik
- Tidur Menjadi Faktor Besar
- Olahraga Memberi Stimulus Fisik dan Mental
- Fish Oil Ikut Muncul dalam Penelitian
- Pola Makan Buruk Berhubungan dengan Resiliensi Lebih Rendah
- Mahasiswa Menjadi Kelompok Penelitian
- Psychological Flexibility Bisa Dilatih
- Jangan Mengubah Semuanya Sekaligus
- Sarapan Tidak Harus Rumit
- Tidur Konsisten Sering Lebih Penting daripada Sempurna
- Stres Tidak Selalu Berarti Ada Masalah
Psychological flexibility menggambarkan kemampuan seseorang menyesuaikan respons ketika menghadapi situasi sulit.
Kemampuan ini tidak sama dengan selalu merasa tenang.
Sebaliknya, seseorang dapat tetap bertindak sesuai tujuan meskipun mengalami stres.
Menurut ScienceDaily, penelitian melibatkan sekitar 400 mahasiswa.
Kebiasaan Sehat Menghadapi Stres Dimulai dari Rutinitas
Banyak orang mencari teknik rumit ketika merasa tertekan.
Namun tubuh merespons rutinitas dasar.
Makan.
Tidur.
Gerak.
Ketiganya memengaruhi energi serta sistem saraf.
Jika semua berantakan, stres bisa terasa lebih berat.
Karena itu, penelitian mencoba melihat hubungan gaya hidup dengan kemampuan adaptasi psikologis.
Sarapan Teratur Berkaitan dengan Fleksibilitas Lebih Baik
Peserta yang lebih rutin sarapan menunjukkan hubungan positif dengan psychological flexibility.
Namun hasil ini tidak berarti sarapan otomatis menghilangkan stres.
Hubungan dapat dipengaruhi banyak faktor.
Orang yang memiliki rutinitas teratur mungkin juga memiliki kebiasaan sehat lain.
Meski begitu, sarapan dapat membantu menjaga energi bagi sebagian orang.
Terutama jika aktivitas dimulai sejak pagi.
Tidur Menjadi Faktor Besar
Kurang tidur memengaruhi emosi.
Seseorang lebih mudah marah.
Konsentrasi turun.
Kemampuan mengambil keputusan juga terganggu.
Karena itu, tidak mengejutkan jika kualitas tidur berkaitan dengan kemampuan menangani tekanan.
Dalam penelitian, tidur buruk berhubungan dengan fleksibilitas psikologis yang lebih rendah.
Hal ini memperkuat alasan tidur perlu dilihat sebagai bagian kesehatan, bukan sekadar waktu istirahat pasif.
Olahraga Memberi Stimulus Fisik dan Mental
Aktivitas fisik juga muncul sebagai kebiasaan positif.
Olahraga membantu tubuh mengelola stres fisiologis.
Detak jantung naik.
Kemudian tubuh kembali ke kondisi normal.
Proses tersebut memberi latihan pada sistem regulasi.
Selain itu, olahraga bisa membantu mood.
Namun latihan tidak harus sangat berat.
Konsistensi lebih penting.
Fish Oil Ikut Muncul dalam Penelitian
Studi juga menemukan hubungan antara konsumsi fish oil dan psychological flexibility yang lebih baik.
Namun bagian ini perlu dibaca hati-hati.
Penelitian observasional tidak membuktikan suplemen menjadi penyebab langsung.
Orang yang memakai fish oil mungkin memiliki pola makan atau gaya hidup berbeda.
Karena itu, suplemen tidak perlu langsung dianggap wajib.
Makanan utuh tetap menjadi dasar.
Pola Makan Buruk Berhubungan dengan Resiliensi Lebih Rendah
Peneliti juga melihat hubungan sebaliknya.
Kebiasaan makan yang kurang sehat berkaitan dengan fleksibilitas lebih rendah.
Hal ini masuk akal dari sisi energi.
Lonjakan dan penurunan gula darah dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasa.
Namun istilah “makanan sehat” juga perlu konteks.
Tidak ada satu makanan yang menentukan kesehatan mental.
Pola keseluruhan jauh lebih penting.
Mahasiswa Menjadi Kelompok Penelitian
Peserta penelitian merupakan mahasiswa.
Karena itu, hasil tidak otomatis berlaku sama untuk semua usia.
Mahasiswa memiliki karakter stres tertentu.
Tugas.
Ujian.
Masalah keuangan.
Perubahan lingkungan sosial.
Orang dewasa pekerja mungkin menghadapi tekanan berbeda.
Meski demikian, kebiasaan dasar tetap relevan.
Psychological Flexibility Bisa Dilatih
Konsep ini juga dikenal dalam Acceptance and Commitment Therapy.
Seseorang belajar menerima pikiran atau emosi yang tidak nyaman tanpa membiarkannya mengontrol seluruh tindakan.
Contohnya, rasa cemas sebelum presentasi tidak harus membuat seseorang menghindar.
Ia tetap bisa maju.
Rutinitas fisik yang baik dapat membantu memberi fondasi.
Namun keterampilan psikologis juga membutuhkan latihan.
Jangan Mengubah Semuanya Sekaligus
Kesalahan umum muncul ketika seseorang ingin hidup sehat.
Mereka langsung mengubah diet.
Mulai gym lima kali.
Tidur pukul 21.00.
Berhenti kopi.
Semua dilakukan dalam satu hari.
Pendekatan ini sulit dipertahankan.
Lebih realistis memilih satu perubahan.
Misalnya sarapan sederhana.
Kemudian tambahkan jalan 15 menit.
Setelah itu, atur jam tidur.
Sarapan Tidak Harus Rumit
Sarapan sehat bisa sangat sederhana.
Telur dan roti.
Oat dengan buah.
Yogurt dan kacang.
Nasi dengan lauk berprotein.
Tujuannya mendapatkan energi dan nutrisi.
Tidak perlu mengikuti tren tertentu.
Pilih makanan yang sesuai kebutuhan serta toleransi tubuh.
Tidur Konsisten Sering Lebih Penting daripada Sempurna
Tidak semua orang bisa tidur delapan jam setiap malam.
Namun jadwal yang relatif konsisten membantu ritme tubuh.
Bangun pada waktu serupa.
Kurangi cahaya terang menjelang tidur.
Batasi kafein jika sensitif.
Kebiasaan kecil sering memberi dampak lebih nyata daripada membeli banyak alat tidur.
Stres Tidak Selalu Berarti Ada Masalah
Stres merupakan respons normal.
Ia membantu tubuh menghadapi tantangan.
Masalah muncul ketika tekanan terlalu berat atau berlangsung sangat lama.
Karena itu, tujuan bukan menghilangkan seluruh stres.
Kebiasaan sehat membantu tubuh menghadapi stres dengan lebih baik.
Penelitian terbaru memberi pengingat sederhana: kemampuan mental juga dipengaruhi apa yang kita lakukan setiap hari.

