Pernahkah Anda membayangkan bahwa rumah tempat tinggal bisa menjadi obat sekaligus sumber penyakit? Pemerintah baru-baru ini menarik benang merah antara Program 3 Juta Rumah dengan dua tantangan kesehatan terbesar di Indonesia: stunting dan tuberkulosis (TBC). Di balik angka-angka pembangunan infrastruktur, tersimpan sebuah kesadaran baru bahwa hunian layak bukan sekadar masalah atap dan dinding, tetapi intervensi kesehatan yang selama ini luput dari perhatian. Artikel ini akan membahas mengapa rumah menjadi kunci penurunan stunting dan TBC, serta apa manfaatnya bagi Anda dan keluarga.

Mengapa Rumah Bisa Menjadi Intervensi Kesehatan?
Selama ini, stunting selalu dikaitkan dengan asupan gizi dan pola asuh. Namun, Kepala BKKBN dr. Hasto menjelaskan bahwa intervensi percepatan penurunan stunting mencakup tiga hal: makanan, ukuran ideal badan, dan kahanan atau keadaan—yang meliputi lingkungan, sanitasi, jamban, hingga rumah.
Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo menegaskan bahwa lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat berkontribusi langsung pada tumbuh kembang anak. “Ibu-ibu yang belum punya rumah, anak-anak yang belum punya hunian yang layak. Kita sudah tahu bahwa lingkungan yang tidak sehat menyebabkan stunting,” ujarnya dalam acara Pencanangan Pembangunan Hunian di Stasiun Manggarai, Jakarta.
Faktanya, Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dunia untuk kasus TBC. Menurut laporan Global Tuberculosis Report 2024, terdapat estimasi 1,09 juta kasus TBC dan 125 ribu kematian per tahun di Indonesia. Hashim menyebut kawasan permukiman kumuh (slums) sebagai inkubator utama penyebaran penyakit tersebut akibat sirkulasi udara yang buruk dan jarak antar-bangunan yang terlalu rapat.
“Slums di India, slums di Indonesia. Itu menyebabkan anak-anak kita banyak mengidap TBC,” tegasnya.
Kriteria Rumah Sehat yang Mencegah Stunting dan TBC

Lantas, seperti apa rumah sehat yang dapat mencegah kedua penyakit ini? Sebuah kajian di Kampung Morokrembangan, Surabaya, mengungkapkan bahwa kondisi rumah tak sehat—rata-rata luas bangunan 24 m² dihuni delapan orang tanpa ventilasi dan pencahayaan yang memadai—menjadi pemicu utama penularan TBC. Penelitian tersebut menemukan bahwa 26,44% rumah di kawasan tersebut tidak memenuhi persyaratan rumah sehat dari total 327.915 rumah yang disurvei.
Berdasarkan standar kesehatan, rumah sehat idealnya memenuhi kriteria berikut:
| Aspek | Kriteria Rumah Sehat |
|---|---|
| Ventilasi | Minimal 10-20% dari luas lantai, sirkulasi udara lancar |
| Pencahayaan | Ada sinar matahari masuk, minimal di ruang keluarga dan kamar |
| Kepadatan hunian | Luas minimal 7,2 m²/orang, tidak berbagi kamar tidur tanpa sekat |
| Sanitasi | Akses air bersih, jamban sehat (leher angsa), SPAL yang memadai |
| Kelembaban | Tidak lembap, bebas dari jamur dan kuman |
| Lantai | Bukan tanah, kedap air agar tidak menjadi sarang kuman |
Selain aspek fisik, perbaikan perilaku juga tak kalah penting. Dr. Husnul Fitri, pengamat perkotaan dari SKSG UI, menekankan bahwa intervensi pencegahan TBC harus menyeluruh—bukan hanya perbaikan fisik rumah, tetapi juga perbaikan lingkungan dan masyarakat. “Jadi tak hanya perbaikan rumah, tapi juga memperbaiki lingkungan dan masyarakat,” pungkasnya.
Sinergi Lintas Sektor: PUPR dan Kemenkes Bersatu
Menariknya, Program 3 Juta Rumah tidak berjalan sendiri. Pemerintah menunjukkan komitmen serius melalui kolaborasi lintas sektor. Pada April 2025, Kementerian PUPR bersama Kementerian Kesehatan, BPS, BP Tapera, dan BTN secara resmi meluncurkan program akad massal dan penyerahan kunci rumah subsidi di Kendal, Jawa Tengah.
Program ini mengalokasikan 30.000 unit rumah subsidi khusus untuk tenaga kesehatan, terdiri dari 15.000 perawat, 10.000 bidan, dan 5.000 tenaga kesehatan masyarakat dari kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Menteri PUPR Maruarar Sirait menegaskan bahwa kualitas rumah menjadi prioritas: “Saya cek sendiri, pastikan tidak banjir dan lingkungannya nyaman. Ini bukti pengembangnya bertanggung jawab”.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi inisiatif ini, menekankan bahwa yang dibangun bukan hanya rumah, tetapi kawasan terintegrasi dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan perdagangan. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan sekaligus mendorong pemerataan layanan kesehatan nasional.
Apa yang Bisa Anda Lakukan?
Program besar ini tentu membutuhkan partisipasi masyarakat. Berikut langkah konkret yang bisa Anda terapkan:
-
Bagi Masyarakat Umum: Manfaatkan program bantuan perumahan seperti BSPS atau KPR FLPP untuk meningkatkan kualitas rumah. Mulailah dari hal sederhana: buka ventilasi, pastikan ada jamban sehat, dan hindari merokok di dalam ruangan.
-
Bagi Kader Kesehatan: Gunakan kriteria rumah sehat dalam tabel di atas sebagai alat edukasi kepada warga. Infeksi berulang akibat lingkungan buruk sering kali menjadi akar masalah yang tidak disadari.
-
Bagi Pemerintah Daerah: Integrasikan Data Perumahan dengan Data Stunting dan TBC. Jadikan perbaikan rumah sebagai salah satu intervensi prioritas di lokus stunting.
Program pemeriksaan kesehatan gratis yang telah menjangkau 72 juta warga membuktikan bahwa TBC dan stunting masih menjadi “malapetaka” bagi bangsa Indonesia. Hashim Djojohadikusumo mengingatkan bahwa hambatan lingkungan dan kesehatan menyebabkan skor pencapaian akademis anak-anak Indonesia rata-rata rendah.
Program 3 Juta Rumah bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang untuk kesehatan generasi. Rumah yang layak bukan hanya tentang atap dan dinding, tetapi tentang ruang yang melindungi keluarga dari penyakit. Ketika kebijakan perumahan dan kesehatan berjalan beriringan, maka dua target besar—penurunan stunting dan eliminasi TBC—bukan lagi sekadar harapan, tetapi sesuatu yang bisa dicapai secara sistematis.
Sudahkah rumah Anda memenuhi kriteria rumah sehat? Bagikan artikel ini kepada tetangga atau keluarga yang sedang merencanakan pembangunan rumah. Konsultasikan dengan dinas terkait untuk mengetahui program bantuan perumahan yang tersedia di wilayah Anda.

