Pernahkah kamu mengalami momen di mana tanganmu terus menggulir layar ponsel meskipun mata sudah terasa berat? Satu berita buruk mengarah ke berita buruk lainnya, dari bencana hingga krisis global. Tanpa sadar, satu jam telah berlalu, dan yang kamu dapatkan bukanlah ketenangan, melainkan rasa cemas yang menggerogoti. Selamat datang di dunia doomscrolling kebiasaan scroll berita buruk sebelum tidur yang kini menjadi epidemi diam-diam di era digital.
Artikel ini akan membahas secara ilmiah bagaimana doomscrolling menyebabkan kecemasan dan insomnia, serta memberikan solusi praktis berupa kebiasaan membaca buku atau mendengarkan musik untuk menggantikannya. Manfaat yang akan kamu peroleh: informasi baru berdasarkan riset, insight tentang cara kerja otakmu, solusi yang langsung bisa dicoba malam ini, dan gaya penulisan yang ringan namun berbobot.

Bahaya Doomscrolling: Lebih dari Sekadar Kebiasaan Buruk
Istilah “doomscrolling” pertama kali muncul pada tahun 2018 dan dipopulerkan oleh jurnalis Karen Ho . Fenomena ini didefinisikan sebagai perilaku menggulir (scroll) media sosial atau berita secara terus-menerus dengan fokus pada informasi yang menyedihkan, meresahkan, atau negatif. Menurut penelitian yang dipublikasikan di BMC Psychiatry, doomscrolling menciptakan lingkaran setan yang mendorong seseorang untuk secara kompulsif mengonsumsi informasi negatif, yang pada akhirnya berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan fisik .
Doomscrolling Menyebabkan Kecemasan: Fakta Ilmiah
Mengapa doomscrolling menyebabkan kecemasan? Penelitian pada 747 pengguna media sosial mengungkapkan bahwa paparan berita negatif dalam durasi singkat sekalipun misalnya hanya 15 menit menonton program berita dapat meningkatkan kecemasan keadaan (state anxiety) dan disregulasi suasana hati pada mahasiswa . Lebih mengkhawatirkan lagi, semakin tinggi frekuensi doomscrolling, semakin berat tingkat depresi, semakin besar kecemasan akan masa depan, dan semakin rendah kepuasan hidup seseorang .
Dr. Evita Limon-Rocha, psikiater dari Kaiser Permanente Riverside, menambahkan bahwa secara nasional, para profesional kesehatan melihat peningkatan kasus kecemasan dan depresi yang berkorelasi dengan kebiasaan konsumsi konten digital sebelum tidur .
Doomscrolling Picu Insomnia dan Gangguan Tidur
Hubungan antara doomscrolling picu insomnia ternyata bersifat dua arah. Sebuah studi structural equation modeling yang melibatkan 2.885 mahasiswa menemukan bahwa doomscrolling berperan sebagai mediator dalam hubungan timbal balik antara insomnia dan depresi . Artinya, doomscrolling tidak hanya menyebabkan insomnia, tetapi insomnia juga memperparah kecenderungan doomscrolling sebuah lingkaran setan yang sulit diputus.
Gangguan tidur akibat doomscrolling juga diperparah oleh faktor biologis. Paparan layar ponsel yang memancarkan cahaya biru (blue light) pada malam hari menekan produksi melatonin hormon yang memberi sinyal pada tubuh bahwa sudah waktunya tidur . Penelitian pada hewan model menunjukkan bahwa paparan cahaya biru selama periode gelap (setara dengan malam hari pada manusia) menekan kadar melatonin dan mengubah arsitektur tidur, termasuk mengurangi tidur REM yang penting untuk pemulihan mental .
Dampak Psikologis: Antara Kesehatan Mental dan Masa Depan yang Gelap
Doomscrolling dan Kesehatan Mental
Doomscrolling dan kesehatan mental memiliki korelasi yang sangat kuat. Penelitian terhadap penyintas gempa bumi Turki 2023 yang menewaskan sekitar 50.000 orang menunjukkan bahwa individu dengan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi meliputi depresi, kecemasan, dan stres cenderung melakukan doomscrolling lebih intensif. Selain itu, kecemasan akan masa depan (future anxiety) terbukti menjadi pemicu signifikan dari perilaku ini .

Efek Negatif Scroll Media Sosial Malam Hari
Efek negatif scroll media sosial malam hari tidak hanya bersifat psikologis tetapi juga fisiologis. Saat membaca berita buruk, sistem saraf otonom mengaktifkan respons “lawan atau lari” (fight or flight). Detak jantung meningkat, hormon kortisol (stres) naik, dan otak berada dalam kondisi siaga tinggi . Kondisi ini adalah kebalikan mutlak dari apa yang dibutuhkan untuk tidur nyenyak. Tidur membutuhkan keadaan tenang, aman, dan stimulasi rendah sesuatu yang tidak mungkin tercapai saat otak sedang dibanjiri berita tentang krisis.
Solusi Praktis: Ganti Kebiasaan Scroll dengan Aktivitas Menenangkan
Setelah memahami bahayanya, sekarang saatnya bertindak. Para ahli merekomendasikan dua alternatif utama: membaca buku dan mendengarkan musik.
Membaca Buku Sebelum Tidur
Mengganti doomscrolling dengan membaca buku memberikan manfaat ganda. Dr. Rachael Molitor, psikolog dari Coventry University, menjelaskan bahwa membaca dengan perlahan dan tenang sebelum tidur mengaktifkan sistem saraf parasimpatis sistem “istirahat dan cerna” yang menurunkan detak jantung dan tekanan darah . Namun, penting untuk memilih jenis bacaan yang tepat. Fiksi ringan atau cerita yang familiar cenderung lebih baik untuk tidur dibandingkan non-fiksi yang memicu pemikiran kritis atau intensitas emosional. Buku cetak (print book) juga lebih ideal karena tidak memiliki cahaya latar yang mengganggu melatonin .

Mendengarkan Musik sebagai Alternatif
Bagi yang tidak suka membaca, mendengarkan musik instrumental, lo-fi, atau suara alam dapat menjadi pilihan. Aktivitas ini memberikan fokus kognitif yang lembut tanpa stimulasi berlebihan, membantu transisi otak dari mode siaga ke mode istirahat.
Cara Memutus Lingkaran Setan Doomscrolling Malam Ini
Menghentikan kebiasaan yang sudah mengakar memang tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Berikut langkah-langkah konkret:
- Tetapkan jam malam digital (news curfew) – Berhenti mengakses berita dan media sosial 60–90 menit sebelum tidur .
- Jauhkan ponsel dari tempat tidur – Letakkan ponsel untuk diisi daya di luar kamar tidur. Jika ponsel tidak dalam jangkauan tangan, godaan untuk scroll akan berkurang drastis.
- Siapkan buku di samping tempat tidur – Jadikan buku sebagai “pengganti” ponsel. Metode habit stacking (menumpuk kebiasaan) ini efektif untuk perubahan perilaku jangka panjang .
- Matikan notifikasi push – Berita breaking dirancang untuk menarik perhatian. Nonaktifkan notifikasi yang tidak esensial, terutama pada malam hari.
Kesimpulan: Pilih Ketenangan, Bukan Kecemasan
Doomscrolling mungkin terasa seperti cara untuk tetap “terinformasi”, tetapi pada kenyataannya kebiasaan ini merampas ketenangan dan kualitas tidurmu. Dengan bukti ilmiah yang semakin kuat mulai dari penelitian pada 2.885 mahasiswa hingga studi pada penyintas bencana satu hal menjadi jelas: gangguan tidur akibat doomscrolling adalah masalah nyata yang membutuhkan intervensi nyata.
Malam ini, cobalah tantangan sederhana: tinggalkan ponsel, ambil buku cetak atau siapkan daftar putar musik favoritmu, dan berikan waktu 15–30 menit untuk aktivitas yang benar-benar merestorasimu. Tidur yang berkualitas bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis. Dan itu dimulai dengan satu keputusan kecil: berhenti scroll, mulai hidup.

