Pernahkah Anda bingung memilih minuman kemasan di supermarket? Label di belakang kemasan dengan angka-angka kecil sering kali membuat Anda malas membaca. Padahal, konsumsi gula berlebihan dari minuman manis menjadi salah satu penyebab utama diabetes dan obesitas. Singapura telah mengambil langkah berani dengan menerapkan sistem Nutri-Grade (A sampai D) pada setiap kemasan minuman. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita akan menyusul?
Artikel ini akan membahas secara lengkap kebijakan label gizi depan kemasan, perbandingannya dengan Singapura, serta manfaatnya bagi kesehatan Anda. Mari simak!

Nutri-Grade ala Singapura: Sistem Label yang Terbukti Efektif
Singapura mulai menerapkan sistem Nutri-Grade pada akhir tahun 2021 untuk semua minuman kemasan non-alkohol . Sistem ini membagi minuman ke dalam empat grade berdasarkan kandungan gula dan lemak jenuh: A (hijau tua) untuk kandungan sangat rendah, B (hijau muda) rendah, C (kuning) perlu dikonsumsi bijak, dan D (merah) tinggi gula yang harus dibatasi .
Penelitian terhadap 883 minuman kemasan di Singapura menunjukkan bahwa lebih dari separuh (59%) minuman mengandung gula tambahan dan masuk dalam grade C dan D . Temuan ini menjadi landasan kuat mengapa regulasi tersebut diperlukan.
Yang menarik, kebijakan ini memberi tekanan pada produsen untuk mereformulasi produk mereka menjadi lebih sehat, serta melarang iklan untuk minuman grade D .
Indonesia Menyusul: Mengenal Nutri-Level dari BPOM
Kabar baik datang dari Indonesia. Pada 6 April 2026, Kepala BPOM Taruna Ikrar secara resmi menandatangani Rancangan Revisi Peraturan BPOM tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan . Indonesia akan mengadopsi sistem serupa bernama Nutri-Level, yang juga menggunakan grade A sampai D dengan warna hijau tua, hijau muda, kuning, dan merah .
Berikut pembagian kategori Nutri-Level versi BPOM :
| Grade | Warna | Makna |
|---|---|---|
| A | Hijau tua | Kandungan GGL (Gula, Garam, Lemak) lebih rendah |
| B | Hijau muda | Kandungan GGL rendah |
| C | Kuning | Perlu dikonsumsi dengan bijak |
| D | Merah | Perlu dibatasi sesuai kebutuhan/kondisi kesehatan |

Kepala BPOM menegaskan bahwa kebijakan ini bukan larangan mengonsumsi produk tertentu, melainkan panduan sederhana bagi masyarakat. “Dengan pelabelan Nutri-Level diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih produk yang lebih sehat,” ujarnya .
Penerapan akan dimulai bertahap dari produk minuman, dengan masa transisi sukarela sebelum diberlakukan wajib .
Data Fakta: Tingginya Gula pada Minuman di Indonesia
Penelitian dari IPB University terhadap 100 sampel minuman siap saji di restoran dan kafe wilayah Jakarta dan Bogor—seperti kopi, teh, bubble tea, dan cokelat—menemukan hasil yang mengkhawatirkan :
-
Hanya 3 minuman yang memiliki kadar gula rendah (setara grade A-B)
-
97 minuman lainnya mengandung gula sedang hingga sangat tinggi (setara grade C-D)
-
Beberapa bahkan melebihi batas asupan gula harian yang direkomendasikan per takaran saji
Ini membuktikan urgensi kebijakan label gizi depan kemasan di Indonesia. Tanpa sistem peringatan yang jelas, konsumen sulit mengetahui betapa manisnya minuman yang mereka konsumsi setiap hari.
Perbedaan Nutri-Grade vs GDA: Mana yang Lebih Efektif?
Selama ini, produsen sering mencantumkan label GDA (Guideline Daily Amount) yang menunjukkan persentase kebutuhan harian dalam satu sajian. Namun, sistem ini dinilai kurang efektif karena informasinya masih terlalu rumit dan biasanya dicetak kecil di belakang kemasan.
Guru Besar IPB University, Prof Nuri Andarwulan, menjelaskan bahwa Nutri-Level lebih sederhana dan mudah dipahami dibandingkan GDA non-warna . Dengan sistem huruf dan warna, konsumen hanya perlu satu detik untuk mengetahui apakah produk tersebut sehat atau tidak. Ini sesuai dengan tujuan utama Front of Pack Labelling (FOPL), yaitu memberdayakan konsumen melalui informasi yang jelas.
Manfaat untuk Anda: Solusi Praktis Menunggu Kebijakan Resmi
Sambil menunggu Nutri-Level diterapkan secara resmi di Indonesia, Anda bisa mulai melindungi diri dengan langkah-langkah berikut:
-
Biasakan cek label gula di belakang kemasan – cari angka “total gula” per 100ml. Pilih yang kurang dari 5g/100ml (setara grade B ke atas).
-
Kurangi minuman manis bertahap – ganti dengan infused water, teh tawar, atau kopi hitam tanpa gula.
-
Waspadai pemanis buatan – meski rendah kalori, konsumsi berlebihan juga tidak disarankan.
Kebijakan Nutri-Level akan membantu Anda membuat pilihan lebih cerdas tanpa harus menjadi ahli gizi. Seperti disampaikan Kepala BPOM, sistem ini adalah panduan, bukan larangan .
Kesimpulan
Indonesia resmi menuju penerapan Nutri-Level setelah BPOM menandatangani rancangan peraturan pada April 2026. Sistem serupa dengan Nutri-Grade Singapura ini akan membantu masyarakat mengenali kadar gula, garam, dan lemak pada produk kemasan hanya dengan melihat huruf dan warna di bagian depan.
Manfaat untuk Anda: informasi yang sederhana, keputusan yang lebih sehat, dan perlindungan dari risiko penyakit tidak menular seperti diabetes. Jangan tunggu kebijakan ini berlaku—mulai sekarang biasakan memeriksa kadar gula minuman favorit Anda. Kesehatan ada di tangan Anda sendiri.
Punya pertanyaan tentang Nutri-Level atau tips memilih minuman sehat? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!

