Tahukah Anda bahwa diabetes tidak terkontrol adalah penyebab utama cuci darah di Indonesia? Data Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) mencatat pada tahun 2022 saja, terdapat 63.498 pasien baru yang menjalani hemodialisis . Lebih mengejutkan lagi, kombinasi diabetes dan hipertensi menyumbang 40-50% kasus gagal ginjal pada pasien diabetes yang harus menjalani terapi seumur hidup . Penyakit ginjal kronis akibat diabetes sering disebut silent killer karena merusak tubuh diam-diam tanpa gejala berarti hingga stadium lanjut. Artikel ini akan membahas tuntas penyebab, gejala, deteksi dini, dan langkah pencegahan agar Anda terhindar dari komplikasi mematikan ini.

Mengapa Diabetes dan Hipertensi Jadi Penyebab Utama Gagal Ginjal?
Nefropati diabetik atau penyakit ginjal diabetik adalah kerusakan ginjal akibat gula darah tinggi kronis yang merusak pembuluh darah kecil (glomerulus) di ginjal . Setiap ginjal mengandung sekitar satu juta nefron—filter halus yang menyaring darah. Ketika diabetes tidak terkontrol dan hipertensi tidak terkontrol terjadi bersamaan, keduanya menjadi “duet maut” yang mempercepat penurunan fungsi ginjal .
Mekanisme kerusakannya dimulai dengan gula darah tinggi kronis yang menyebabkan penebalan membran basal glomerulus dan proliferasi sel-sel mesangial . Sementara itu, tekanan darah tinggi kronis meningkatkan tekanan dalam sistem penyaringan, merusak pembuluh darah kecil ginjal. Akibatnya, ginjal kehilangan kemampuan menyaring limbah, terjadi kebocoran protein (albuminuria), dan akhirnya berujung pada gagal ginjal stadium akhir .
Data MSD Manuals mengungkapkan bahwa risiko seumur hidup mengalami end-stage renal disease (ESRD) akibat diabetes mencapai 40% pada pasien diabetes . Bahkan, 25% pasien diabetes tipe 2 akan mengalami microalbuminuria dalam 10 tahun setelah diagnosis .
Gejala Gagal Ginjal yang Harus Diwaspadai Pasien Diabetes
Penyakit ginjal kronis akibat diabetes sering tidak bergejala pada tahap awal—itulah mengapa disebut silent killer . Gangguan dini hanya bisa diketahui dari pemeriksaan urin dan darah. Ketua Umum PERNEFRI, Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, menegaskan bahwa PGK sering tidak terdeteksi hingga 90 persen fungsi ginjal hilang .
Gejala yang perlu diwaspadai meliputi :
-
Urine berbusa (tanda protein dalam urine/albuminuria)
-
Bengkak pada kaki, pergelangan kaki, tangan, atau wajah
-
Mudah lelah dan lemas
-
Kehilangan nafsu makan
-
Kulit kering dan gatal
-
Sulit berkonsentrasi atau linglung
-
Mual dan muntah
-
Sesak napas (akibat cairan di paru-paru)
-
Kram otot
-
Kreatinin tinggi dan ureum tinggi dalam pemeriksaan darah
Jika sudah mengalami gejala di atas, kemungkinan nefropati diabetik sudah mencapai tahap cukup parah dan perlu penanganan segera .
Deteksi Dini: Cek Fungsi Ginjal Secara Rutin
Deteksi dini penyakit ginjal adalah kunci mencegah gagal ginjal pada pasien diabetes. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Maxi Rein Rondonuwu, menekankan pentingnya skrining rutin bagi populasi berisiko .
Pemeriksaan yang direkomendasikan untuk pasien diabetes dan penderita hipertensi :
1. Tes Urin
-
Tes mikroalbuminuria: Mendeteksi protein dalam urine pada tahap sangat dini. Urine normal tidak mengandung albumin .
-
Rasio albumin-kreatinin urine
2. Tes Darah
-
Kreatinin dan estimated GFR (eGFR) untuk mengevaluasi fungsi ginjal
-
HbA1c untuk kontrol gula jangka panjang (target <7%)
-
Blood Urea Nitrogen (BUN) atau ureum
3. Tes Tekanan Darah
-
Target tekanan darah pada diabetisi: <130/80 mmHg untuk melindungi ginjal
BPJS Kesehatan menjamin seluruh biaya pemeriksaan hingga pengobatan penyakit ginjal, termasuk skrining bagi yang masih sehat . Pemeriksaan sederhana ini bisa menyelamatkan nyawa Anda.
7 Langkah Mencegah Gagal Ginjal pada Pasien Diabetes

Kabar baiknya, mencegah gagal ginjal akibat diabetes sangat mungkin dilakukan. Berikut langkah-langkah cegah komplikasi diabetes :
1. Kontrol Gula Darah Ketat
Jaga HbA1c di bawah 7%. Pantau gula darah rutin dan patuhi obat diabetes atau insulin sesuai anjuran dokter.
2. Kontrol Tekanan Darah
Target tekanan darah <130/80 mmHg. Batasi konsumsi garam dan konsumsi obat hipertensi secara teratur.
3. Minum Obat Sesuai Anjuran Dokter
Jangan pernah menghentikan obat tanpa konsultasi. Dokter mungkin meresepkan ACE inhibitor atau ARB yang melindungi ginjal sekaligus mengontrol tekanan darah .
4. Jaga Pola Makan Sehat
Batasi protein berlebihan, garam, dan makanan tinggi kalium. Konsultasi dengan ahli gizi untuk diet yang sesuai.
5. Hindari Obat-obatan yang Merusak Ginjal
Hindari konsumsi obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) seperti ibuprofen tanpa resep. Konsultasikan semua obat termasuk herbal ke dokter.
6. Cek Fungsi Ginjal Rutin
Lakukan tes darah dan urine minimal setahun sekali. Jika sudah ada gangguan, frekuensi pemeriksaan bisa ditingkatkan.
7. Hindari Rokok dan Batasi Alkohol
Merokok mempercepat kerusakan ginjal dan merusak pembuluh darah.
Pengobatan Jika Sudah Terlanjur Mengalami Gagal Ginjal
Jika sudah mencapai gagal ginjal stadium akhir atau end-stage renal disease (ESRD), ada dua pilihan utama :
A. Cuci Darah (Hemodialisis)
Proses penyaringan darah dengan mesin, biasanya 2-3 kali seminggu selama 4 jam per sesi. Pasien cuci darah harus menjalani prosedur seumur hidup atau sampai transplantasi.
B. Transplantasi Ginjal
Pemberian ginjal sehat dari donor. Menawarkan kualitas hidup lebih baik, tapi membutuhkan pencocokan dan obat imunosupresan seumur hidup.
Sayangnya, data registri PERNEFRI 2022 mencatat prevalensi kumulatif pasien dialisis mencapai 158.929 orang di Indonesia . Angka ini terus meningkat seiring tingginya kasus diabetes tidak terkontrol dan hipertensi tidak terkontrol.
Kesimpulan
Waspada gagal ginjal pada pasien diabetes bukan sekadar slogan—ini adalah urgensi kesehatan yang nyata. Diabetes tidak terkontrol dan hipertensi tidak terkontrol adalah kombinasi berbahaya yang bisa berujung pada cuci darah seumur hidup. Kabar baiknya, dengan deteksi dini dan kontrol ketat, Anda bisa mencegah gagal ginjal.
Jika Anda penderita diabetes atau pasien hipertensi, jadwalkan cek fungsi ginjal sekarang juga. Pemeriksaan sederhana bisa menyelamatkan Anda dari komplikasi mematikan. Bagikan artikel ini ke keluarga atau teman yang memiliki faktor risiko. Ingat, edukasi pasien diabetes adalah langkah pertama menuju hidup lebih sehat dan bebas dari cuci darah.

